Thursday, September 1, 2016

Challenges for safer sex education and HIV prevention in services for people with intellectual disabilities in Britain



Summary

This paper reviews progress and competence in HIV prevention work for people with intellectual disabilities in Britain. It identifies key challenges for specialist residential support and sex education services for people with intellectual disabilities, as well as for mainstream health promotion services. The discussion is informed by research and practice evidence and explores ways to develop competence in safer sex education, offering suggestions for HIV risk assessment and risk management. While the paper demonstrates that the politics of sexuality and HIV are difficult for services to manage, the rights of people with intellectual disabilities to information and support for sexuality and sexual health should be put first.

Opini
Pendidikan seks bagi orang-orang dengan disabilitas intelektual sangat kurang memadai. Padahal orang-orang dengan disabilitas intelektual mempunyai hak untuk seksualitas dan berekspresi secara seksual. Kondisi di lapangan adalah tingginya insidensi pelecehan seksual terhadap orang dengan disabilitas intelektual dan tingginya risiko infeksi HIV pada orang dengan disabilitas intelektual.
Titik fokus untuk pendidikan seks pada orang dengan disabilitas intelektual adalah hubungan mutualisme, negosiasi, dan persetujuan. Suatu kegiatan seksual dikatakan pelecehan apabila  pihak-pihak yang bersangkutan 1) tidak setuju, 2) tidak mampu menyetujui karena tidak paham akan situasi maupun hambatan dalam mengekspresikan pendapat, dan 3) mendapat tekanan untuk setuju dari pihak yang lebih berkuasa, misal keluarga atau tenaga kesehatan.
Dari jurnal ini saya mendapat informasi bahwa di negara Inggris, pendidikan seks menggunakan media video, diperankan oleh aktor-aktor dengan disabilitas intelektual pula, dan  boneka-boneka / puppet besar. Walaupun konten mengenai homoseksualitas sangat jarang dibahas dalam media video-video, sehingga berisiko tinggi penularan HIV. Selain itu bahasa yang digunakan harus diperhatikan agar mudah dicerna oleh sasaran dengan disabilitas intelektual. Contoh konkretnya adalah jangan menggunakan bahasa yang bersifat medis.
Situasi di Indonesia sendiri, orang-orang dengan disabilitas intelektual belum mendapatkan hak seksualitas mereka. Kondisi yang umum dijumpai adalah mereka sama sekali tidak mendapatkan pendidikan seks, dan rentan menjadi korban pelecehan seksual. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan pemberian pendidikan seks kepada mereka yang mengalami disabilitas intelektual dengan media yang memadai dan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami.

Referensi
Cambridge, P. Challenges for safer sex education and HIV prevention in services for people with intellectual disabilities in Britain. Health Promotion International (1998) 13 (1): 67-74. Available at http://heapro.oxfordjournals.org/content/13/1/67.short [Accessed on August 30th 2016]

No comments:

Post a Comment