
Summary
This paper reviews progress
and competence in HIV prevention work for people with intellectual disabilities
in Britain. It identifies key challenges for specialist residential support and
sex education services for people with intellectual disabilities, as well as
for mainstream health promotion services. The discussion is informed by
research and practice evidence and explores ways to develop competence in safer
sex education, offering suggestions for HIV risk assessment and risk
management. While the paper demonstrates that the politics of sexuality and HIV
are difficult for services to manage, the rights of people with intellectual
disabilities to information and support for sexuality and sexual health should
be put first.
Opini
Pendidikan
seks bagi orang-orang dengan disabilitas intelektual sangat kurang memadai.
Padahal orang-orang dengan disabilitas intelektual mempunyai hak untuk
seksualitas dan berekspresi secara seksual. Kondisi di lapangan adalah
tingginya insidensi pelecehan seksual terhadap orang dengan disabilitas
intelektual dan tingginya risiko infeksi HIV pada orang dengan disabilitas
intelektual.
Titik
fokus untuk pendidikan seks pada orang dengan disabilitas intelektual adalah
hubungan mutualisme, negosiasi, dan persetujuan. Suatu kegiatan seksual
dikatakan pelecehan apabila pihak-pihak
yang bersangkutan 1) tidak setuju, 2) tidak mampu menyetujui karena tidak paham
akan situasi maupun hambatan dalam mengekspresikan pendapat, dan 3) mendapat
tekanan untuk setuju dari pihak yang lebih berkuasa, misal keluarga atau tenaga
kesehatan.
Dari
jurnal ini saya mendapat informasi bahwa di negara Inggris, pendidikan seks
menggunakan media video, diperankan oleh aktor-aktor dengan disabilitas intelektual
pula, dan boneka-boneka / puppet besar. Walaupun konten mengenai
homoseksualitas sangat jarang dibahas dalam media video-video, sehingga
berisiko tinggi penularan HIV. Selain itu bahasa yang digunakan harus
diperhatikan agar mudah dicerna oleh sasaran dengan disabilitas intelektual.
Contoh konkretnya adalah jangan menggunakan bahasa yang bersifat medis.
Situasi
di Indonesia sendiri, orang-orang dengan disabilitas intelektual belum
mendapatkan hak seksualitas mereka. Kondisi yang umum dijumpai adalah mereka
sama sekali tidak mendapatkan pendidikan seks, dan rentan menjadi korban
pelecehan seksual. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan pemberian pendidikan
seks kepada mereka yang mengalami disabilitas intelektual dengan media yang
memadai dan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami.
Referensi
Cambridge, P. Challenges for
safer sex education and HIV prevention in services for people with intellectual
disabilities in Britain. Health Promotion International (1998) 13 (1): 67-74.
Available at http://heapro.oxfordjournals.org/content/13/1/67.short
[Accessed on August 30th 2016]
No comments:
Post a Comment